ARTIKEL II Pondok Modern Darussalam Gontor Putri I menggelar kuliah umum bertema “Peran Perempuan dalam Lembaga Keagamaan dan Pemikiran Islam di Mesir dan Indonesia” pada Kamis (20/3). Acara ini terselenggara berkat kerja sama Majelis Hukama Muslimin, Wihdah Azhariyah Indonesia, dan Pondok Modern Gontor Putri I.
Kuliah umum ini menghadirkan dua pemateri ahli, Dr. Sara Atha Amin Mohammed Lc., M.A dan Dr. Iffatul Umniyah Ismail Lc., M.A, yang memaparkan studi kasus mengenai peran perempuan dalam lembaga keagamaan di Mesir dan Indonesia. Turut hadir dalam acara ini Dr. Elly Warti Maliky, Ketua Umum Wihdah Azhariyah Indonesia, yang memberikan dukungan penuh terhadap diskusi mengenai peran perempuan dalam dunia keislaman.
Pengalaman Perempuan di Mesir dalam Lembaga Keagamaan
Dalam pemaparannya, Dr. Sara Atha Amin Mohammed menekankan bahwa Islam telah memberikan hak dan kesempatan luas bagi perempuan untuk berkontribusi dalam dunia keilmuan dan lembaga keagamaan, sebagaimana yang tercantum dalam QS Al-Baqarah ayat 228.
Ia menyampaikan contoh dari sejarah Islam, di mana perempuan memiliki peran penting dalam keilmuan Islam, seperti Ummu Salamah yang banyak meriwayatkan hadis, serta Sayyidah Aisyah r.a., yang bahkan oleh Nabi Muhammad SAW disebut sebagai sumber utama ilmu agama bagi umat Islam.
Saat ini, Mesir telah menunjukkan kemajuan dalam memberi ruang bagi perempuan dalam lembaga keagamaan. Contohnya adalah Dr. Ilham Muhammad Syahin, yang menjabat sebagai Asisten Sekretaris Jenderal Pusat Penelitian Islam di Mesir, serta Dr. Nahlah Shabry As-Sa’idi, yang menjadi penasehat Grand Syeikh Al-Azhar.
Keduanya adalah perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut, mengingat kompetensi dan standar keilmuan yang sangat ketat. Dukungan dari Grand Syeikh Al-Azhar serta Kementerian Wakaf Mesir menjadi faktor utama dalam terbukanya akses bagi perempuan untuk berperan dalam lembaga keagamaan di negara tersebut.
Studi Kasus Indonesia: Peluang dan Tantangan
Sementara itu, Dr. Iffatul Umniyah Ismail memaparkan bahwa di Indonesia, perempuan memiliki akses yang lebih luas untuk berperan dalam lembaga keagamaan dan dunia akademik Islam dibanding di Mesir.
Beberapa tokoh perempuan yang berperan besar dalam dunia keilmuan Islam di Indonesia antara lain:
• Aisyah Abdurrahman, perempuan pertama yang menulis tafsir Al-Qur’an di Mesir, menjadi inspirasi bagi banyak intelektual Muslimah.
• Khuzaimah Tahido, seorang cendekiawan yang berperan dalam pengembangan lembaga pendidikan tinggi ilmu Al-Qur’an di Indonesia.
Di Indonesia, perempuan juga aktif dalam organisasi keislaman besar seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, serta Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU).
Meski demikian, masih terdapat beberapa tantangan, di antaranya:
1. Kekangan Tradisi – Beberapa posisi dalam lembaga keagamaan masih didominasi oleh laki-laki karena faktor budaya dan pemahaman konservatif.
2. Kebijakan Publik yang Kurang Mendukung – Tidak semua daerah memiliki regulasi yang memberi kesempatan setara bagi perempuan dalam kepemimpinan keagamaan.
3. Minimnya Publikasi tentang Peran Perempuan dalam Lembaga Keagamaan – Kurangnya eksposur media membuat kontribusi perempuan kurang dikenal oleh masyarakat luas.
Sebagai solusi, diperlukan upaya seperti pelatihan dan pembinaan khusus bagi perempuan, perbaikan regulasi, serta penguatan kolaborasi antar cendekiawan perempuan Muslim.
Mendorong Perempuan Berperan dalam Lembaga Keagamaan
Kuliah umum ini menegaskan bahwa perempuan memiliki kapasitas dan kompetensi untuk berkontribusi dalam lembaga keagamaan, baik di Mesir maupun Indonesia. Meskipun tantangan tetap ada, dukungan dari institusi pendidikan Islam, pemerintah, dan masyarakat sangat diperlukan agar perempuan dapat lebih aktif di bidang ini.
Dengan adanya diskusi semacam ini, diharapkan akan muncul lebih banyak cendekiawan perempuan Muslim yang mampu menduduki posisi strategis dalam lembaga keagamaan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Oleh: Dr. Iffatul Umniati Ismail, Lc., M.A.
Penulis adalah;
Dosen Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta.
Pengurus LBM PBNU.,
Pengasuh Pondok Pesantren Unggulan.Tahfizh dan Sains (PPUTS), Darus Salam Torjun.
Sekjen Wihdah Azhariyah Indonesia.
Editor : Red